Tips Budidaya Wijen di Lahan Kering

Secara tradisional, biji wijen telah digunakan oleh masyarakat kita dalam berbagai olahan makanan salah satunya yang terkenal adalah jajanan pasar onde-onde yang dikulitnya dibalut denga biji wijen. Minyak wijen dipercaya mampu mengikat kolesterol sehingga aman bagi penderita kolesterol tinggi.

Wijen diduga berasal dari Benua Afrika. Tepatnya negara Ethiopia.  Kandungan protein yang tinggi dimiliki oleh tanaman bernama latin Sesamum indicum Lini. Telah teridentifikasi setidaknya ada 24 jenis tanaman wijen yang bisa dimanfaatkan.

Untuk anda yang berminat dengan budidaya tanaman wijen, namun hanya memiliki lahan kering di belakang rumah anda? Nah, berikut ini adalah tips budidaya wijen di lahan kering yang dapat menjadi referensi anda.

Tips Budidaya Wijen di Lahan Kering dengan Mudah

  1. Pembenihan

Tanaman wijen berkembang biak secara generatif, yaitu dengan biji. Untuk itu guna memperoleh hasil yang tinggi, biji bakal benih harus berkualitas baik dan berasal dari varietas yang unggul.

Pengadaan benih dapat anda lakukan sendiri atau dengan cara membeli. Pengadaan benih yang sendiri dapat dilakukan dengan memilih tanaman yang sehat dan berbuah banyak, kemuadian dipotong dan dipisahkan dengan tanaman lain (dari panenan secara keseluruhan). Selanjutnya, biji dibersihkan dan dijemur.

Jika biji telah mengering, masukkan ke dalam botol atau kaleng yang bagian atasnya dilapisi dengan abu yang agak tebal kemudian ditutup. Anda juga dapat menggunakan kantong plastik, asalkan dapat ditutup rapat.

  1. Pengolahan Tanah dan Pemupukan Dasar

Lahan untuk menanam wijen perlu dipersiapkan dengan baik agar tanaman dapat tumbuh baik pula. Tanah untuk menanam wijen haruslah gembur, memiliki drainase (pembuangan air ) yang baik, memiliki bahan organik yang cukup, dan steril (bebas patogen).

Untuk mendapatkan media tanam yang baik, tanah perlu diolah secara intensif. Sebab pengolahan tanah yang kurang baik dapat menjadi penghambat pertumbuhan tanaman. Persiapan tanah yang baik dilakukan selama sekitar 60 hari.

Biarkan tanah mengalami desinfeksi secara alami karena akan terjadi proses oksidasi gas-gas beracun dan patogen akan mati, terutama golongan cendawan. Pengolahan tanah tahap kedua dilakukan satu minggu kemudian.

Pada tahap ini bongkahan-bongkahan tanah hasil pembajakan digemburkan dengan cara dicangkul tipis-tipis hingga tanah benar-benar hancur dan menjadi gembur, kemudian diratakan. Tahap selanjutnya, tanah dibiarkan lagi selama tujuh hari agar oksigen masuk ke sela-sela tanah (terangin-angin) dan terkena sinar matahari.

Pengolahan tanah tahap ketiga dilakukan seminggu barikutnya, tanah dicangkul atau dibajak kembali. Tujuannya unutuk membalik tanah yang berada di lapisan bawah.  Pada tahap ini dapat sekaligus dilakuakan pemupukan dasar dan pengapuran (bila diperlukan). Gunakan pupuk kandang secukupnya saja.

Pengolahan tanah secara intensif dapat menciptakan media tanam yang baik karena akan meningkatkan oksigen dalam tanah, air, penguraian bahan organik tanah, dan aktivitas biologis tanah yang bertugas menguraikan bahan organik tanah menjadi bahan yang tersedia bagi tanaman.

  1. Pengapuran Tanah

Pengapuran tanah dapat anda lakukan apabila nilai keasaman (pH) tanah kurang dari 5,5. Kegiatan ini dilakukan dua minggu sebelum penanaman, umumnya akar tanaman tidak tahan terhadap pengapuran secara langsung setelah penanaman.

  1. Penanaman

Pada tahap ini anda tinggal menanam benih yang telah anda siapkan sebelumnya pada lubang-lubang dengan kedalaman antara 30-40cm. Pastikan tutup dengan tanah yang gembur dan sesekali menepuknya ringan.

Setelah biji tertanam, yang perlu anda lakukan adalah rutin menyirami tanaman wijen anda dan memnersihkan dari gulma atau tanaman liar di sekitar area tanam.

Referensi: web portal pertanian TaniMuda

Tags: